PESAGIRAYA, SENDANG AGUNG – Bendera Merah Putih berkibar di mana-mana. Spanduk HUT RI ke-80 mulai terpasang di sudut-sudut jalan. Di tengah hiruk pikuk persiapan anak muda, ada semangat yang tak kalah membara dari para senior di Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah.
Mereka adalah anggota *PWRI – Persatuan Wredatama Republik Indonesia. Para pensiunan guru dan pegawai negeri yang dulu mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa. Kini di usia senja, mereka kembali menunjukkan pengabdiannya: dengan cara merayakan kemerdekaan.
Tahun ini, PWRI Sendang Agung tidak mau hanya jadi penonton. Mereka turun langsung ikut memeriahkan.
PWRI Kecamatan Sendang Agung saat ini menaungi 106 orang anggota. Mayoritas adalah mantan guru SD, SMP, SMA dan pegawai instansi pemerintah yang sudah purna tugas.
Dari jumlah itu, sekitar 50 orang rutin hadir dalam setiap pertemuan. Bukan karena yang lain tidak peduli. Tapi karena faktor usia, jarak, dan kesehatan.
Namun 50 orang yang hadir itu membawa semangat 1000 orang.
Struktur kepengurusan yang solid menjadi kunci.
Ketua : Jumono
Sekretaris: Sumarni
Bendahara : Edi Yuswanto
Di bawah kepemimpinan Pak Jumono, PWRI tidak hanya jadi tempat kumpul. Tapi juga jadi tempat mengadu, tempat berbagi, dan tempat mengisi hari-hari agar tidak sepi.
Menjelang 17 Agustus, suasana di sekretariat PWRI Sendang Agung berbeda. Biasanya hanya ada senam dan arisan. Kali ini ada agenda khusus: membuat nasi tumpeng.
Bagi mereka, tumpeng bukan sekadar makanan. Tumpeng adalah simbol syukur. Syukur karena Indonesia masih merdeka. Syukur karena mereka masih diberi kesehatan untuk merayakannya.
“Kami walau sudah sepuh, kami tidak mau kalah sama anak muda. Kami tetap semangat mengikuti acara kegiatan 17 Agustus. Dengan kita ikut merayakan 17 Agustus, membuat hati kita senang dan sehat,” kata Pak Jumono dengan suara tegas namun berwibawa.
Beliau sadar betul kondisi fisik para anggota. Karena itu beliau menegaskan tidak ada paksaan untuk ikut lomba-lomba yang menguras tenaga.
“Kita semua tidak usah ikut acara lomba. Kita sekedar ikut meriahkan saja. Yang penting kita hadir. Kita tunjukkan ke anak cucu, bahwa kemerdekaan ini milik kita semua. Dari yang muda sampai yang tua,” jelasnya.
“DENGAN BERKUMPUL KAMI JADI TERHIBUR”
Kalimat itu keluar dari Pak Purwanto dan Pak Murtadol, dua anggota senior yang sudah puluhan tahun mengajar di Sendang Agung.
Dulu mereka sibuk di kelas, mengoreksi buku, dan mendidik murid. Sekarang rutinitas itu sudah selesai. Tapi kekosongan itu bisa menimbulkan rasa sepi.
“Kita ini pensiunan bang. Kalau seharian di rumah, pikiran macam-macam. Tapi kalau sudah hari Kamis, hari pertemuan, rasanya semangat lagi. Dengan ada kegiatan seperti ini semua jadi terhibur,” ujar Pak Purwanto sambil tersenyum.
Pertemuan itu menjadi ajang melepas rindu. Bertemu teman lama, bernostalgia di masa mengajar, saling bertukar cerita cucu. Lebih dari itu, PWRI menjadi sistem pendukung sosial.
“Kami selalu siap. Setiap ada kawan kita yang sakit, kami pasti menjenguk dan memberi semangat. Karena kita ini keluarga. Dulu kita sama-sama berjuang mencerdaskan anak bangsa. Sekarang kita berjuang menjaga kesehatan bersama,” tambah Pak Jumono.
Agenda membuat nasi tumpeng tahun ini digagas langsung oleh ibu-ibu anggota PWRI. Dipimpin oleh Sekretaris, Ibu Sumarni dan Bendahara, Pak Edi Yuswanto, persiapan dilakukan seminggu sebelumnya.
Tumpeng dengan lauk pauk sederhana akan dibuat bersama-sama. Nanti akan didoakan bersama dan dibagikan kepada anggota serta masyarakat sekitar saat acara peringatan di tingkat kampung atau kecamatan.
Maknanya dalam: Bentuk kerucut tumpeng melambangkan harapan agar hidup selalu meningkat. Warna kuning dari nasi melambangkan kesejahteraan.
“Ini cara kami bersyukur. Kami tidak bisa upacara baris-berbaris lagi. Tapi kami bisa masak, bisa berdoa, bisa berkumpul. Itu sudah cukup untuk menunjukkan cinta kami pada Indonesia,” kata Ibu Sumarni.
Keberadaan PWRI Sendang Agung seharusnya menjadi cermin. Di saat banyak anak muda yang apatis dengan 17 Agustus, para sepuh ini justru yang paling semangat.
Mereka tidak menuntut hadiah. Tidak menuntut panggung. Mereka hanya ingin hadir. Ingin merasakan lagi suasana kemerdekaan seperti dulu saat masih aktif mengajar dan upacara di sekolah.
Semangat inilah yang harus ditularkan. Bahwa nasionalisme bukan soal usia. Bukan soal bisa lari cepat di lomba panjat pinang. Tapi soal hati yang tetap peduli pada bangsa.
Para anggota berharap pemerintah kecamatan dan desa tidak melupakan mereka. Dukungan kecil seperti tempat untuk berkumpul, kegiatan kesehatan Posbindu, atau undangan dalam acara resmi, sangat berarti.
“Kami siap membantu. Pengalaman kami puluhan tahun bisa dipakai untuk membina generasi muda. Kami hanya butuh dirangkul,” harap Pak Jumono menutup perbincangan.
Di akhir, semua anggota PWRI Sendang Agung menitipkan pesan:
“Merdeka tidak hanya diperingati. Merdeka harus dirasakan. Dan kami masih ingin merasakannya, bersama-sama.”
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81
“BERSATU, BERDAULAT, RAKYAT SEJAHTERA, INDONESIA MAJU”
Data PWRI Kec. Sendang Agung
Nama : PWRI Kecamatan Sendang Agung
Total Anggota : 106 Orang
Kehadiran Rutin : ±50 Orang
Ketua : Jumono
Sekretaris : Sumarni
Bendahara : Edi Yuswanto
Kegiatan Rutin : Senam, Posbindu, Pertemuan, Gotong Royong, Jenguk Anggota Sakit
Semangat PWRI Sendang Agung adalah bukti bahwa usia hanya angka. Ketika hati masih muda, maka pengabdian tidak akan pernah pensiun. (Iron Guna)
