PESAGIRAYA, PUBIAN — Hati kami bergetar haru hari ini. Udara pagi di Negeri Kepayungan, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah terasa berbeda. Ada rasa syukur, ada rasa bangga, ada sedikit rasa haru yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Alhamdulillah, Alhamdulillahirobbil Alamin. Atas segala izin, ridho, dan pertolongan Allah SWT, hari ini kami keluarga besar Bapak Nuhdi Yuda Sastra & Ibu Ovita Vera melangkahkan kaki melaksanakan tradisi luhur warisan nenek moyang kami, Sujud Terang Mempradu Dau.
Sebuah tradisi penuh makna, sebuah bentuk kerendahan hati, sebuah perjalanan cinta yang tulus dari orang tua untuk anak.
Dari tanah kelahiran kami yang kami cintai, dari Negeri Kepayungan yang penuh kenangan, langkah kami hari ini kami ayunkan dengan penuh harapan, penuh doa menuju Kampung Pajar Bulan, Kabupaten Lampung Tengah. Bukan sekadar perjalanan menempuh jarak, tapi perjalanan menjemput takdir, perjalanan untuk menyatukan dua keluarga besar dalam satu ikatan kekeluargaan yang abadi.
Putra pertama kami, belahan jiwa kami, buah hati yang kami besarkan dengan penuh kasih sayang, cucuran keringat dan doa yang tak pernah putus, M. Dio Fajri Pratama, A.Md.P, kini telah tumbuh dewasa. Anak lanang yang dulu kami gendong, kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah, santun, dan siap untuk memikul tanggung jawab besar membangun sebuah rumah tangga yang diridhoi Allah.
Dengan hati yang penuh syukur, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena bahagia, kami melepas langkahnya dengan penuh keikhlasan. Hari ini ia berjalan tegap menuju rumah besan, menuju kediaman keluarga besar
Bapak Aliman dan Ibu Bainah, untuk meminang dan mempersiapkan penyatuan hatinya bersama seorang gadis sholehah, putri tercinta mereka yang bernama Nofita Sary, S.Ak.
Sujud Terang Mempradu Dau ini bukanlah sekadar adat. Ini adalah wujud dari kerendahan hati kami sebagai orang tua. Kami datang bukan dengan kesombongan, kami datang dengan tangan terbuka, dengan hati yang tulus dan bersih. Kami datang menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada keluarga besar di Pajar Bulan. Kami datang menundukkan kepala, memohon doa restu, agar kedua anak kami kelak dapat menjadi pasangan yang saling menjaga, saling mengasihi, saling melengkapi dalam suka dan duka.
Kami memohon, doakanlah anak-anak kami.
Doakan agar M. Dio Fajri Pratama dan Nofita Sary kelak menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Keluarga yang rumah tangganya dipenuhi cahaya Al-Quran, rezekinya berkah, keturunannya sholeh dan sholehah, dan cintanya kekal hingga ke Jannah.

Terima kasih ya Allah… Engkau telah mempertemukan dua hati yang terpisah, Engkau telah mempersatukan jalan mereka dengan cara-Mu yang begitu indah. Kami hanya bisa berencana, tapi Engkaulah sebaik-baiknya perencana.
Semoga langkah kecil yang kami tempuh dari Negeri Kepayungan menuju Pajar Bulan hari ini, dicatat oleh para malaikat sebagai langkah yang membawa keberkahan yang tak terputus. Semoga kedua anak kami senantiasa dalam lindungan-Mu, dijauhkan dari segala keburukan, dan semoga ikatan keluarga besar Negeri Kepayungan dan Pajar Bulan ini menjadi cahaya terang yang akan menerangi perjalanan hidup mereka selamanya, menjadi contoh tentang betapa indahnya menjaga adat, menjaga silaturahmi, dan menjaga cinta.
Semoga Allah SWT meridhoi, melancarkan, dan memberkahi setiap langkah anak-anak kami. (Iron Guna)

