Pesagi Raya, Lamsel- Anggaran miliaran rupiah yang digelontorkan untuk rehabilitasi fasilitas sekolah dasar di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, justru berakhir dengan kekecewaan mendalam. Proyek yang seharusnya memberikan ruang belajar yang lebih nyaman bagi para siswa, malah menghadirkan cerita tragis tentang dugaan kelalaian, penyalahgunaan, dan kerugian Negara yang diperkirakan mencapai miliaran Rupiah.
Proyek yang mendapat sorotan adalah rehabilitasi dan pembangunan beberapa Item penting disekolah seperti ruang kelas, ruang UKS dan toilet. Pembangunan tersebut tersebar di sejumlah sekolah dasar, termasuk SDN 2 Sidodadi Asri, SDN Banjar Agung, dan SDN 4 Rejo Mulyo.
Proyek ini dimulai dengan harapan besar untuk memperbaiki kualitas pendidikan di daerah tersebut. Namun, hasil akhir yang diterima sangat jauh dari harapan.
Seperti di SDN 4 Rejo Mulyo, ternyata masalah muncul sejak awal pembangunan, khususnya terkait dengan pembangunan WC dan kualitas material yang digunakan. Salah satu sumber internal yang dapat dipercaya mengungkapkan bahwa tukang yang mengerjakan proyek ini sudah silih berganti-ganti yang menandakan carut marutnya dalam pengerjaan proyek tersebut, belum lagi campuran adukan semen yang digunakan hanya 9:1, yang jelas tidak sesuai dengan standar. Bukan hanya itu, besi yang digunakan dalam pembangunan juga diduga berkualitas buruk bahkan ada yang menggunakan besi holo yang rentan terhadap kerusakan. Hal ini mengarah pada kekhawatiran bahwa struktur bangunan yang baru saja dibangun akan cepat rusak.
“kalau tidak percaya dicek saja, saya melihat sendiri adukan yang digunakan 9:1, besi yang digunakan juga kualitas buruk jelek. yang membuat saya geleng-geleng kepala karena inikan untuk kepentingan pendidikan kok berani sampai begitu, aneh tapi nyata tukang yang mengerjakan juga berganti-ganti tidak tau ada masalah apa, mungkin karena sebagian tukang tidak mau mengerjakan karena takut dosa, atau mungkin karena tukang kabur melarikan diri” ungkap sumber.
Selain dari pada itu sumber juga mengungkapkan, bahwa Kondisi bangunan semakin buruk ketika bangunan terlihat miring, menunjukkan adanya masalah serius dalam pekerjaan konstruksi.
Seharusnya, proyek rehabilitasi ini bisa memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan yang lebih baik, namun kenyataannya malah menimbulkan ketidaknyamanan bagi siswa dan tenaga pendidik.
Yang lebih mencengangkan lagi adalah fakta bahwa kontraktor yang bertanggung jawab atas proyek tersebut tidak pernah hadir langsung di lapangan untuk memantau kualitas pekerjaan. Sebaliknya, mereka hanya mengawasi pekerjaan melalui telepon, yang semakin memperburuk pelaksanaan proyek. Mengingat kualitas bangunan yang buruk, pertanyaan besar pun muncul dikepala sebagian besar Masyarakat bagaimana proyek ini bisa di-PHO (Proyek Handover) atau diselesaikan, meski jelas ada banyak kekurangan dan kerusakan yang terlihat.
Selain masalah teknis di lapangan, terdapat dugaan praktik penyalahgunaan anggaran dalam proyek ini. Sejumlah pihak mencurigai adanya praktik korupsi yang merongrong integritas proyek rehabilitasi sekolah ini. Proses tender yang kurang transparan, drama setor menyetor sebesar 20 persen mark-up anggaran, pengurangan kualitas material, serta pemborosan anggaran untuk kepentingan pribadi dianggap sebagai faktor yang memperburuk situasi.
Anggaran yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan dan peningkatan kualitas pendidikan, ternyata diduga malah dialihkan untuk memperkaya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal ini, pejabat yang seharusnya bertindak sebagai pengawas dan pelindung kepentingan publik malah Diduga terlibat dalam permainan yang merugikan Negara dan masyarakat.
Kerugian yang ditimbulkan oleh proyek ini tentu sangat besar, baik secara finansial maupun sosial. Siswa dan tenaga pendidik di daerah tersebut seharusnya mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak dan nyaman, namun kenyataannya mereka malah harus berhadapan dengan ruang kelas yang rusak dan tidak aman. Fasilitas yang seharusnya menjadi alat untuk mendukung proses pembelajaran, kini justru menjadi hambatan yang merugikan.
Lain sisi Masyarakat sekitar ketika diwawancarai juga mengungkapkan kekecewaan mendalam mereka terhadap proyek rehabilitasi ini. Dinding-dinding ruang kelas mulai menunjukkan retakan dalam waktu singkat, sementara plafon yang baru dipasang sudah mengalami kerusakan bahkan ada yang sudah ambrol. Keramik yang dipasang, yang seharusnya memberikan tampilan estetis, malah sudah pecah karena pemasangan yang tidak sesuai standar.
Masyarakat setempat berharap agar pihak-pihak berwenang, terutama APH segera melakukan evaluasi dan pengecekan menyeluruh terhadap proyek yang tersebar di tiga sekolah tersebut. Mereka juga mengingatkan citra kabupaten Lampung Selatan sebagai kabupaten yang penuh dengan sarang penyamun segera harus dibersihkan, jangan terus menerus menambah catatan buruk kasus dugaan korupsi di kabupaten mereka tercinta.
Hingga berita ini dilansir, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai masalah ini, namun masyarakat terus berharap agar keadilan dapat ditegakkan dan proyek-proyek pembangunan pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih profesional dan transparan di masa depan.
Ingin tau kelanjutannya? Tunggu berita mendatang. (Red)



